Oleh-Oleh Paling Berharga Dari Indonesia
Oleh-oleh, adalah yang paling ditunggu-tunggu dari teman-teman yang berlibur ke Indonesia. Bagi anak-anak yang ‘terbuang’ dari tanah air seperti aku, oleh-oleh favorit adalah M. A. K. A. N. A. N. baik itu berupa penganan, bumbu masak, kaos oblong (siapa yg mau makan??? TIKUS! mehehehe)…dll.
Yasir dan Rendi adalah dua makhluk Tuhan paling seksi …eh…maksudnya adalah dua dari kawanku yang beruntung. Kantong orang tua mereka masih sanggup nanggung biaya tiket mereka buat liburan di Indonesia. Hmmm…Kalau aku??? Untuk bisa beli tiket, mungkin Ayahku harus jual sawah dan gadaikan rumah dulu! Mehehehehehe…..
Yasir dari Tapanuli Selatan dan Rendi tinggal lumayan dekat dengan KAMPUNGKU di Rantau Prapat. Hampir empat bulan mereka liburan di Indonesia. Awalnya aku sangat bernafsu dan amat bersemangat untuk ‘merampok’, ‘menggondol’, dan menjarah oleh-oleh mereka berdua. Tanggal kedatangan mereka, 6 November, sudah aku hapalkan jauh-jauh hari. Namun sayang seribu sayang, nampaknya Allah masih sayang sekali pada kedua makhluk itu. Aku tidak sadar kalau mereka sudah sampai. Aku lupa! Aku baru sadar, ketika mereka sudah sempat hidup di Kairo selama dua hari. Jadi?! Ya, itu artinya rencana penjarahanku tidak diizinkan Allah. Niat baikku untuk merampok mereka gagal total. Aku terlambat datang ke rumah mereka. Oleh-oleh mereka sudah musnah dan punah akibat dimangsa oleh teman-temanku anak Medan yang nafsu makannya di atas normal karena rata-rata menderita kelaparan berkepanjangan! Mehehehehe……
Aku datang ke rumah Rendi, tapi dia lagi gak ada di rumah. Dan aku belum ketemu sama tu anak sampai sekarang. Oleh-oleh yang dibawanya sama sekali tidak meninggalkan jejak. Sebenarnya masih ada sisa sambel pecel, tapi bagi aku itu tidak termasuk oleh-oleh. Soalnya sambel pecel bisa aku dapatkan di restoran-restoran Indonesia di sini.
Ketika Rendi Masi di Indonesia, mamak(Ibu)ku sempat menanyakan dan
menawarkan, makanan apa yang akan dititipkan kepada Rendi untuk aku.
Dan kalau aku mau, aku yakin si Rendi tidak akan menolak. Dia pasti akan menerima dengan senang hati sambil masang muka yang sangat manis sekali (walau mungkin di hatinya ia merasa sangat tersiksa dan terjajah.. mehehehe). Tapi tawaran mamakku aku tolak. Aku gak mau. Aku gak enak. Soalnya sudah bisa dipastikan kalau kopernya sudah penuh dan sesak dengan barang titipan orang. Dan aku orangnya gak enakan, berperasaan halus, pengertian, jujur, malas menabung, dan tidak sombong! ha ha ha ha…Aku sangat paham. Kalau aku jadi dia, aku pasti mengharapkan agar tidak banyak yang nitip. Kalaupun terpaksa aku berharap semoga hanya sedikit.
Di rumah Yasir, nasibku tidak jauh berbeda. Dodol dan salak yang dibawanya dan aku rindukan ludes. Tapi di sini beda. Kalau di rumah Rendi aku tak mendapatkan apa-apa, di rumah Yasir aku mendapatkan apa yang aku minta dan apa yang aku butuhkan. Aku sempat ikut makan sambel teri di sana, maka aku sudah mendapatkan apa yang aku minta. Dan yang paling istimewa adalah aku mendapatkan apa yang aku butuhkan; majalah ALO INDONESIA. Ini adalah oleh-oleh paling berharga dari oleh2 lainnya. Makanan bisa habis dan ujung skenarionya adalah di kamar mandi. Tapi majalah ALO INDONESIA tidak
akan habis. Walaupun aku nanti menderita kelaparan sampai ubun-ubun
aku tidak akan memakan majalah. Aku masih waras. Mehehehehehe….
Begitu melihat setumpuk majalah ALO INDONESIA di tangan Yasir, nafsu
bacaku yang sempat mati setengah abad yang lalu langsung bangkit. Majalah ini ibarat segelas ashir qashab/air tebu yg segar di tengah-tengah panasnya udara gurun. Ibarat Oase. Rasanya lebih lezat dari daging rusa. Banyak sekali hal-hal baru, kosa kata baru yang aku dapat.
Makasih Yasir, walaupun aku tidak bisa memiliki majalahmu, tapi aku bisa minjam. Mehehehehe….Ei..Blog..nanti aku ceritakan lebih lanjut tentang ALO INDONESIA ya. Sekarang aku lagi ’sok’ sibuk, ngurusin tulisan di Informatika dan suara PPMI. Da..blog…